Ilmu Kelautan Perikanan

Blog tentang berbagai macam ilmu kelautan dan perikanan

  • Home
  • About
  • Contact
  • Privacy Policy
Home » Budidaya
Showing posts with label Budidaya. Show all posts
Showing posts with label Budidaya. Show all posts

Saturday, 9 May 2015

Pakan Buatan

Pakan Buatan


Selamat pagi teman-teman. Kali ini saya akan membahas tentang pakan ikan. Ada dua jenis pakan ikan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Kali ini saya akan membahas pakan buatan. Selamat menyimak...

Bentuk pakan buatan ditentukan oleh kebiasaan makan ikan.



a)  Larutan, digunakan sebagai pakan burayak ikan dan udang (berumur 2-30 hari). Larutan ada 2 macam, yaitu : (1) Emulsi, bahan yang terlarut menyatu dengan air pelarutnya; (2) Suspensi, bahan yang terlarut tidak menyatu dengan air pelarutnya.

b) Tepung halus, digunakan sebagai pakan benih (berumur 20-40 hari). Tepung halus diperoleh dari remah yang dihancurkan.

c) Tepung kasar, digunakan sebagai pakan benih gelondongan (berumur 40-80 hari). Tepung kasar juga diperoleh dari remah yang dihancurkan.

d) Remah, digunakan sebagai pakan gelondongan besar/ikan tanggung (berumur 80-120 hari). Remah berasal dari pellet yang dihancurkan menjadi butiran kasar.

e) Pellet, digunakan sebagai pakan ikan dewasa yang sudah mempunyai berat > 60-75 gram dan berumur > 120 hari.

f) Waver, berasal dari emulsi yang dihamparkan di atas alas aluminium atau seng dan dikeringkan, kemudian diremas-remas.

Vitamin dan Mineral

1. Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).

2. Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino tertentu.

3. Contoh-contoh merek dagang:
- Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2 asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)
- Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), asam amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe, Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.
- Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3, FeSO4, MnSO4, KI, CuSO4, dan ZnCO3, serta vitamin B12 (sianokobalamin). Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B.

Penggunaannya :
4. Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.

Garam Dapur (NaCl)

Fungsi: sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan. Penggunaannya cukup 2%.

Bahan Perekat
Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu, dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka. Penggunaannya cukup 10%.

Pembuatan Pakan Buatan
Dalam menyusun ramuan untuk pakan buatan harus memperhatikan kadar zat-zat dari masing-masing bahan baku dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Bentuk Larutan Emulsi
1. Sebutir telur itik direbus sampai masak, kemudian diambil kuningnya dan dilarutkan dalam 200 ml air.
2. Sambil diaduk, tambahkan 40 g tepung kedele halus, 5 g sagu, dan akhirnya 1 g vitamin.
3. Panaskan larutan sambil tetap diaduk, sampai diperoleh cairan kental seperti lem yang encer. Larutan siap digunakan setelah dingin.
4. Masa simpan larutan 10 jam dan digunakan untuk makanan burayak ikan yang berumur 3-20 hari.

Bentuk Larutan Suspensi
1. 20 g kedele direbus sampai masak, agar zat penghambat tumbuhnya hilang, dihaluskan dan diberi air sedikit demi sedikit, kemudian disaring dengan kain mori halus. Telur itik diberi perlakukan serupa dan yang digunakan hanya bagian yang kuning.
2. Larutan sari kedele dan larutan sari kuning telur dicampur dan diaduk merata.
3. Digunakan untuk makanan burayak.

c) Bentuk Roti Kukus
1. Telur itik dikopyok sampai lumat dan berbuih. Secara berangsur-angsur ditambahkan tepung ikan, tepung terigu, dan tepung susu, sampil terus diaduk dan diberi air sedikit demi sedikit.
2. Adonan dikukus sampai masak selama 30 menit. Roti yang sudah masak didinginkan dengan kipas angin.
3. Vitamin B dan C dihaluskan, ditambah tetrasiklin yang telah dibuang kapsulnya dan beberapa tetes vitamin A+D-pleks dan Kalsidol.
4. Roti kukus yang telah dingin, dibentuk menjadi gumpalan kecil-kecil, kemudian dioleskan pada campuran vitamin dan antibiotik, sambil diremas-remas sampai campuran merata. Roti dapat disimpan dalam lemari es selama 3 hari.
5. Sebelum digunakan sebaiknya dibuat suspensi, yaitu dengan melarutkannya dalam air melalui kain saringan halus yang ukurannya disesuaikan dengan ukuran burayak yang akan diberi makan.

Bentuk Pellet
1. Bahan untuk membuat pelet ada 2 macam, yaitu berupa: tepung kering dan gumpalan (pasta).
2. Bahan perekat dapat dicampur langsung dengan bahan lainnya saat masih kering, atau disendirikan. Bila disendirikan, bahan tersebut diseduh dulu dengan air mendidih sampai mengental seperti lem encer. Setelah itu bahan perekat dicampur dengan bahan-bahan lainnya.
3. Pencampuran bahan dimulai dengan bahan yang jumlahnya sedikit dan diakhiri dengan bahan yang jumlahnya paling banyak. Bahan yang berupa pasta dicampurkan paling akhir. Bahan perekat yang dibuat adonan tersendiri, dicampurkan paling akhir. Adonan yang masih kurang basah dapat ditambah air sedikit demi sedikit.
4. Apabila bahan perekat dicampur langsung dengan bahan-bahan lainnya, maka pembuatan adonan dilakukan dengan air panas sebanyak ± 1/4berat bahan baku. Pengadukan dilakukan di atas api kecil, agar air tidak cepat dingin.
5. Pengadukan adonan dilakukan sampai terjadi perubahan warna.
6. Adonan didinginkan di atas tampir. Apabila menggunakan ragi, maka pencampurannya dilakukan setelah adonan dingin.
7. Bahan baku yang telah dingin dicetak dengan penggiling daging dan akan diperoleh bentuk batangan-batangan. Batangan basah tersebut dipotongpotong sepanjang 3 cm.
8. Pelet basah yang telah dipotong-potong dijemur sampai kadar airnya 10- 20%. Pengeringan dihentikan apabila pelet kering, keras dan mudah patah.

Bentuk Remah dan Tepung
1. Keduanya berasal dari pellet yang sudah kering. Pellet digiling lagi dengan penggiling kopi. Besar kecilnya ukuran butiran tergantung kendor kencangnya setelan gigi-gigi penggilas alat penggiling.
2. Tepung kasar dan halus dipisahkan dengan ayakan.
- Untuk benih berumur 20-40 hari, mata saringnya 40-75 sampai 75-105 mikron.
- Untuk benih berumur 40-80 hari, mata saringnya > 105 mikron.

Bentuk Lembaran
1. Kuning telur ayam dikopyok sampai lumat, sambil berangsur-angsur ditambah air 100 ml, kemudian ditambah 20 gram tepung terigu.
2. Adonan dipanaskan sambil terus diaduk sampai adonan mengental menjadi emulsi larutan emulsi yang masih panas dan encer, dioleskan tipis-tipis
di atas lempeng aluminium, kemudian dipanggang sampai mengering dan akan mengelupas sendiri.
3. Lapisan yang telah mengelupas, dikumpulkan. Dalam keadaan demikian mudah pecah-pecah menjadi kepingan-kepingan.

Sekian pembahasan tentang pakan ikan dari saya, semoga bermanfaat dan sampai jumpa lagi pada artikel berikutnya.
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
09:00

Tuesday, 21 April 2015

Induk Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas induk pokok (Parent Stock)

Induk Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas induk pokok (Parent Stock)


Pendahuluan
Standar induk ikan bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas induk pokok (Parent
Stock) disusun sebagai upaya meningkatkan jaminan mutu (quality assurance),
mengingat produk induk ikan bandeng kelas induk pokok banyak diperdagangkan
serta mempunyai pengaruh terhadap mutu benih yang dihasilkan, sehingga
diperlukan persyaratan teknis tertentu.
Standar induk ikan bandeng kelas induk pokok diterbitkan oleh Badan Standardisasi
Nasional (BSN) sebagai pihak yang berwenang mengkoordinasikan standar sesuai
dengan Keppres RI No.13 tahun 1997. Standar induk ikan bandeng kelas induk
pokok dimaksudkan untuk dapat dipergunakan oleh produsen benih, penangkar dan
instansi yang memerlukan serta digunakan untuk pembinaan mutu dalam rangka
sertifikasi.


1 Ruang lingkup

Standar induk ikan bandeng kelas induk pokok disusun meliputi definisi, istilah dan
singkatan, klasifikasi, persyaratan yang berdasarkan kriteria kualitatif (asal, warna,
dan bentuk tubuh) dan kriteria kuantitatif (umur, panjang badan, berat badan) serta
cara pengukuran dan pemeriksaan.

2 Acuan
Penyusunan standar induk ikan bandeng kelas induk pokok menggunakan acuan
dari :
a) Keputusan Menteri Pertanian No. 26/Kpts/OT.210/1/98 tentang Pedoman
Pengembangan Perbenihan Perikanan Nasional dalam Konsiderans.
b) Pedoman penulisan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dikeluarkan oleh
Badan Standardisasi Nasional (Pedoman 39 - 1995).
c) Data dan informasi teknis dari pihak dan instansi terkait, yaitu : Puslitbangkan,
Perguruan Tinggi (IPB Bogor, UNDIP Semarang), Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Direktorat Jenderal Perikanan.
d) Hasil penelitian dan perekayasaan produksi induk/benih ikan Bandeng oleh Unit
Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Unit
Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan.

3 Definisi
Ikan bandeng adalah jenis ikan yang secara taxonomi termasuk Chanos chanos
Forskal yang hidupnya di perairan tropis Indo Pasific. Induk ikan bandeng adalah
ikan bandeng jantan dan betina yang memenuhi persyaratan ukuran tertentu yang
diperoleh dari kegiatan budidaya di tambak, dengan jenjang klasifikasi menurut
Scuster (1960) sebagai berikut:
Phylum : Vertebrata
Sub phylum : Craniata
Class : Teleostomi
Sub class : Actinopterygii
Ordo : Malacopterygii
Family : Chanidae
Genus : Chanos (Lacepede 1803)
Species : Chanos chanos (Forskal, 1775)

4 Istilah dan singkatan

a) Induk penjenis (Great Grand Parent Stock, GGPS) adalah induk ikan yang
dihasilkan oleh dan dibawah pengawasan penyelenggara pemulia.
b) Induk dasar (Grand Parent Stock, GPS) adalah induk ikan keturunan pertama
dari induk penjenis yang memenuhi standar mutu kelas induk dasar.
c) Induk pokok (Parent Stock, PS) adalah induk ikan keturunan pertama dari induk
dasar atau induk penjenis yang memenuhi standar mutu kelas induk pokok.
d) Benih sebar adalah benih keturunan pertama dari induk pokok, induk dasar atau
induk penjenis yang memenuhi standar mutu kelas benih sebar.
e) Manipulasi hormonal dalam pemijahan adalah upaya merangsang pematangan
gonad dalam pemijahan induk ikan dengan menggunakan hormon.
f) Manipulasi lingkungan dalam pemijahan adalah upaya merangsang pematangan
gonad dalam pemijahan induk ikan dengan pengaturan air media.
g) D.14-16 adalah rumus jari-jari sirip punggung (dorsal) yang menunjukkan jumlah
jari-jari lunak sirip punggung sebanyak 14 buah -16 buah.
h) P.6-7 adalah rumus jari-jari sirip dada (pectoral) yang menunjukkan jumlah jarijari
lunak sirip dada sebanyak 6 buah - 7 buah.
i) A.10-11 adalah rumus jari-jari sirip dubur (anal) yang menunjukkan jumlah jari-jari
lunak sirip dubur sebanyak 10 buah -11 buah.
j) V.11-12 adalah rumus jari-jari sirip perut (ventral) yang menunjukkan jumlah jarijari
lunak sirip perut sebanyak 11 buah -12 buah.
k) LL 75-80 adalah rumus gurat sisi (linea lateralis) yang menunjukkan jumlah gurat
sisi sebanyak 75 buah -80 buah.

5 Klasifikasi
Induk ikan bandeng kelas induk pokok digolongkan dalam 1 (satu) tingkatan mutu
berdasarkan kriteria kualitatif dan kuantitatif.

6 Persyaratan
6.1 Kriteria kualitatif
a) Asal : induk bandeng kelas induk pokok adalah induk hasil pembesaran benih
ikan bandeng kelas benih sebar hasil budidaya di tambak.
b) W a r n a : seluruh tubuhnya tertutup oleh sisik berwarna cerah dan mengkilap
keperakan, dan bagian punggung berwarna kehijauan.
c) Bentuk tubuh : pipih, pada bagian tengah tubuh terdapat garis gurat sisi yang
memanjang dari ujung tutup insang sampai pangkal ekor, bersisik penuh dan
sisik bertipe cycloid. Mulut relatif kecil tidak bergerigi (Gambar 1). Sirip dubur
terletak jauh di belakang sirip punggung, sirip ekor panjang dan bercagak keping
bagian atas dan bagian bawah lebih panjang dari bagian tengah sirip ekor.
d) Kesehatan : Anggota/organ tubuh lengkap, tidak cacat. Alat kelamin tidak cacat
(rusak) tubuh tidak ditempeli oleh parasit, tidak berlumut, bersih bebas dari
organisme patogen. Insang lengkap dan berwarna merah segar.
e) Kekenyalan tubuh : kenyal, tidak lembek.
f) Gerakan : aktif, lincah, berenang normal pada kolom air, dan cenderung
menyongsong arus.
g) Respon terhadap pakan : sangat responsif terhadap pakan yang diberikan.

6.2 Kriteria kuantitatif
a) Rumus sirip punggung D. 14 - 16; sirip dada P. 6 - 7, sirip dubur A. 10 - 11, sirip
perut V. 11 - 12 dan jumlah sisik pada gurat sisi LL adalah 75 - 80.
b) Kriteria kuantitatif induk bandeng kelas induk pokok, seperti Tabel 1.
Tabel 1 Kriteria kuantitatif jenis induk ikan bandeng kelas induk
pokok
Jenis kelamin
Kriteria                          Jantan            Betina
Umur (tahun)                  > 4,0             > 4,0
Panjang total (cm)³            60                60
Berat tubuh (kg) ³             2,5                2,5

7 Cara pengukuran dan pemeriksaan
7.1 Cara menentukan umur
Cara menentukan umur dihitung sejak telur menetas yang didapat dari catatan
pemeliharaan dan dinyatakan dalam satuan tahun.
7.2 Cara mengukur panjang total
Cara mengukur panjang total diukur dengan menggunakan penggaris/pita ukur dari
ujung mulut sampai ujung sirip ekor, dinyatakan dalam satuan centimeter (cm).
7.3 Cara mengukur berat badan ikan
Cara mengukur berat badan ikan dengan jalan menimbang ikan dengan
menggunakan timbangan yang dinyatakan dalam satuan kilogram (kg).
7.4 Cara memeriksa kesehatan ikan
a) Pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan ikan dilakukan secara acak
sebanyak 1% dari populasi, atau maksimal 10 ekor ikan sampel.
b) Pengamatan visual atau organoleptik dilakukan untuk pemeriksaan adanya
ektoparasit dan kesempurnaan morfologi ikan.
c) Pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen di
laboratorium uji.
1
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
00:16

Monday, 20 April 2015

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SEBAGAI BAHAN PAKAN IKAN ALTERNATIF

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SEBAGAI BAHAN PAKAN IKAN ALTERNATIF


1.      LATAR BELAKANG
            Pemeliharaan ikan secara intensif memerlukan pakan komersil yang tepat mutu, tepat waktu, dan tepat jumlah. Pakan komersil yang diproduksi oleh pabrik memiliki kualitas dan jumlah yang terjamin. Akan tetapi, harga pakan komersil yang semakin hari semakin meningkat telah meresahkan para pembudidaya ikan termasuk di Kabupaten Pringsewu. Hal ini akan menyebabkan naiknya biaya produksi secara umum. Efek domino dari kenaikan biaya produksi ini yaitu kenaikan harga-harga produk perikanan. Secara tidak langsung, konsumen akhirlah yang dibebankan untuk menanggung pembengkakan biaya produksi. Pada akhirnya daya beli konsumen menjadi penentu akhir keberlanjutan industri akuakultur. Apabila daya beli konsumen tinggi, mungkin tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi pada kenyataannya daya beli konsumen (Indonesia) tidak demikian halnya. Ketergantungan pabrik pakan terhadap bahan baku impor menyebabkan harga pakan menjadi mahal. Menurut data yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan 2006, impor tepung ikan Indonesia mencapai 88.902 ton. Sedangkan selama semester pertama 2007, DKP mencatat impor produk perikanan mayoritas berupa tepung ikan yang mencapai 25.905 ton, sedangkan dalam bentuk ikan segar atau beku mencapai 18.872 ton hingga Juli 2007. Hal ini menunjukkan ketergantungan Indonesia dalam pengadaan bahan pembuat pakan. Oleh karena itu diperlukan alternatif lain sebagai sumber protein yang berbasis bahan baku lokal.
Maggot atau larva dari lalat black soldier (Hermetia illicens) merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi persyaratan sebagai sumber protein. Murtidjo (2001) menyebutkan bahwa bahan makanan yang mengandung protein kasar lebih dari 19 %, digolongkan sebagai bahan makanan sumber protein. Berdasarkan hasil proksimat maggot yang telah dilakukan, Sugianto (2007) menyebutkan bahwa maggot yang dikultur dengan menggunakan bungkil kelapa sawit terfermentasi memiliki kandungan protein 38,32 %. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh BBPBAT Sukabumi, maggot yang dikultur menggunakan bungkil kelapa sawit yang telah difermentasi memiliki kandungan protein 45,14 %. Hal ini berarti maggot memenuhi syarat sebagai sumber protein. Aplikasi penggunaan maggot sebagai pakan sangat mudah diterapkan. Tidak seperti halnya pabrik pakan yang menggunakan formulasi pakan yang cukup rumit. Maggot dapat dijadikan pakan secara langsung dalam bentuk segar ataupun dicampur bahan lain seperti dedak untuk dijadikan pelet. Hal ini tentunya akan memudahkan petani untuk memproduksi pakan sendiri.

2.      TUJUAN
Tujuan dari kegiatan ini adalah:
a.             Penyediaan pakan ikan alternatif yang murah namun berkualitas dengan pemanfaatan limbah organik yang berasal dari pasar-pasar tradisional di sekitar Kabupaten Pringsewu.

3.      SASARAN KEGIATAN
         Sasaran kegiatan adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dan masyarakat perikanan yang merupakan binaan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu.

4.      KELUARAN (OUTPUT)
Keluaran (output) yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
a.         Tersedianya Pakan Ikan Organik yang terjangkau dan berkualitas baik.

5.      HASIL (OUTCOME)
Keluaran (output) yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
a.         Meningkatkan hasil produksi perikanan.
b.         Meningkatkan pendapatan Pembudidaya Ikan.

6.      RINCIAN PEKERJAAN

Kebutuhan bahan pakan untuk menghasilkan 50 kg pakan ikan:
Ø  Dedak 20 kg
Ø  Jagung lembut 5 kg
Ø  Ikan Asin/Ikan rusak/ikan afkir (segala jenis) 10 kg
Ø  Timun dan tomat @ 2 kg
Ø  Gula merah 0,5 kg
Ø  Munthul / mantang / ubi jalar rebus 15 kg
Ø  Temu lawak, jahe, lengkuas @ 20 gram
Ø  Merica/lada 2 sachet
Ø  Bawang putih 20 gr
Ø  Probiotik 300 cc.

7.      CARA MEMBUAT PAKAN ORGANIK
a.       Ubi jalar dikukus lalu didinginkan 6-8 jam, lalu giling sampai halus
b.      Haluskan ikan afkir/ikan rusak
c.       Campurkan ubi jalar, ikan afkir, jagung giling, dan dedak hingga merata
d.      Blender tomat dan mentimun kemudian masukkan ke ember/baskom, tambahkan gula merah yang telah dicairkan dan 300cc Probiotik
e.       Siramkan campurkan tomat tersebut kedalam campuran ubi jalar aduk hingga merata
f.       Simpan di dalam wadah tertutup, bungkus dan tutup rapat dengan karung atau terpal. Setelah 7 (tujuh) hari buka dan aduk. Tutup rapat kembali dan aduk 7 (tujuh) hari kemudian. Setelah 21(duapuluh satu) hari dibuka dan diaduk, jika Maggot belum muncul biarkan tutup wadah dibuka, 2-3 hari kemudian maggot akan muncul
g.      Kering anginkan pakan tersebut dalam ruangan, setelah 18-24 jam kemudian pakan siap diberikan.

a.    Gambar Pakan Fermentasi ditumbuhi Maggot         b.PakanMaggot
0
Komentar
f
Share
t
Tweet
g+
Share
?
Unknown
23:46
Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)
Find Us :

Pencarian

Blog Keren

  • Info Menarik dan Tutorial

Entri Populer

  • Ikan Pelagis Lengkap Dengan Jenis dan Contohnya
    Ikan Pelagis Lengkap Dengan Jenis dan Contohnya Ikan Pelagis adalah ikan yang hidupnya di permukaan air hingga kolom air antara 0-200 m...
  • Nama Ilmiah Ikan-ikan Air Laut
    Nama Ilmiah Ikan-ikan Air Laut Seperti halnya ikan air tawar, ikan air laut pun terbagi menjadi 2 jenis, yaitu ikan pelagis dan demers...
  • Ikan Sembilang, Saudara Kembar Lele Yang Beracun Tapi Banyak Manfaatnya
    Ikan Sembilang, Saudara Kembar Lele Yang Beracun Tapi Banyak Manfaatnya Halo teman-teman, gimana kabarnya ? Semoga selalu sehat dan bah...
  • Bendera Isyarat Internasional Pada Kapal
    Bendera Isyarat Internasional Pada Kapal Alfa Di bawah saya ada penyelam, menjauhlah dengan perlahan. Bravo Saya se...
  • 10 Contoh Soal Ujian Ankapin 2 (Olah Gerak Kapal)
    10 Contoh Soal Ujian Ankapin 2 (Olah Gerak Kapal) Pada artikel sebelumnya saya sudah membahas contoh soal ujian ANKAPIN 2 untuk bidang K...
  • Nama Ilmiah Ikan-ikan Air Tawar
    Nama Ilmiah Ikan-ikan Air Tawar Ikan air tawar umumnya terbagi menjadi 2, yaitu ikan air tawar konsumsi dan ikan air tawar hias. Baikla...
  • Cara membuat Stik Lele Renyah dan Gurih
    Cara membuat Stik Lele Renyah dan Gurih Resep dan Cara membuat stik lele yang renyah dan gurih akan saya bagikan untuk teman-teman semu...
  • 10 Contoh Soal Ujian Ankapin 2 (Daerah, Metode dan Teknik Penangkapan Ikan)
    10 Contoh Soal Ujian Ankapin 2 (Daerah, Metode dan Teknik Penangkapan Ikan) Selamat malam pelaut muda, kali ini saya akan membagikan lagi...
  • 10 Contoh Soal Ujian ANKAPIN 2 (Komunikasi)
    10 Contoh Soal Ujian ANKAPIN 2 (Komunikasi) Selamat sore para pelaut muda calon perwira kapal. Kali ini saya akan membagikan contoh soal ...
  • Spesifikasi Alat Tangkap Purse Seine
    Spesifikasi Alat Tangkap Purse Seine Purse seine (pukat cincin) biasa disebut juga jaring kerut atau jaring kolor adalah salah satu ...
Copyright 2015 Ilmu Kelautan & Perikanan All Rights Reserved. Powered by Blogger.

Semua Artikel

  • ▼  2015 (39)
    • ▼  June (3)
      • Contoh Laporan PKL Kapal Ikan Purse Seine (BAB I -...
      • Contoh Laporan PKL Kapal Ikan Purse Seine (BAB I -...
      • Manfaat Ikan Kembung Yang Luar Biasa
    • ►  May (18)
    • ►  April (18)

Contributors

  • Anas Rosyid Alamsah
  • Unknown

Kategori

  • Alat Tangkap
  • Budidaya
  • Contoh
  • Kapal
  • Manfaat
  • Nautika
  • Pengolahan
  • Perikanan Air Tawar
  • Perikanan Laut
Copyright 2013 Ilmu Kelautan Perikanan - All Rights Reserved
Design by Mas Sugeng - Published by Evo Templates